Rabu, 22 Oktober 2014 - 0 komentar

Aku dan Balik Layar

Malam ini, aku mengawali semuanya dengan menatap layar monitor dan sehelai kertas yang kan aku susun dengan seuntai kata kata hingga menjadi sebuah cerita dalam hidupku.

Awalnya aku tak mengerti apa yang sedang kurasakan, bermula dari kesamaan antara aku dengannya. Kesamaan yang memang tak direncanakan dan diketahui sebelumnya, rasa itupun hadir menemani dalam hari-hariku.

Disaat orang mulai merasakan jatuh cinta, mereka selalu memandangi, mendekati, bahkan tertawa bersama dengan orang yang mereka suka atau mungkin rasa cinta diantara mereka sudah mulai terlihat. Dengan 2 Mata yang dianugrahkan oleh Tuhan, tak sedikit diantara mereka, ingin dilihat oleh seseorang yang selama ini dilihatnya, untuk melirik walau hanya sebentar saja.

Sajian pagiku tidak lain dan tidak bukan adalah kamu, aku selalu berusaha untuk melihatmu dengan berbagai cara semampuku, hal pertama yang sering aku lakukan adalah melihatmu dari tempat parkir yang berada tak jauh dari halaman kelasku. Ku coba untuk melihat dan memandangi sosok dirimu, meski kau sadar atau tidak.

Aku selalu tersenyum didepan kelasku saat engkau beranjak dari kursimu walau untuk sekedar mencari udara segar saja. Dan tak jarang aku merasakan kerinduan disaat kita berpisah. saat bel pulang misalnya.

Akupun selalu terkagum-kagum dengan sosok dirimu disaat aku melihat senyum kebahagiaanmu. Terkadang, aku tak tau untuk siapa senyumanmu itu.

Terkang beberapa khayalan pun terlintas dalam benakku, "Apa bisa aku memilikimu dengan keterbatasanku ini?"

Disaat kau sudah bahagia dengan yang lain, aku yakin aku akan tetap bertahan, walau tak terasa hati inipun menangis dan meneteskan air mata dipipiku meski tanpa kau sadari.

Dari situ akupun tersadar akan banyak keterbatasan diriku ini. Mungkin aku memang tak seperti yang kau inginkan, aku tak mampu berbisik pada hati kecilmu tentang rasaku. Karena aku hanya sesosok pria yang mampu menatapmu dari kejauhan, menatap senyum manismu hanya dari balik layar.

0 komentar:

Posting Komentar